Ke Sumar

Malam itu saya berharap menjadi malam yang baik-baik saja. Datang, dipijat, lalu pulang. Tapi, itu harapan yang tampak muskil. Berharap rumah Ke Sumar sepi dari orang yang mau berpijat nyaris mustahil. Pasiennya dari berbagai penjuru, datang silih berganti. Masalahnya, dia hanya memijat pada sore hingga malam hari. Dari pagi sampai siang ia mengolah ladang.

Tentu malam itu tidak baik-baik saja. Saat saya sampai di rumahnya, sudah ada dua orang yang menunggu. Untungnya satu orang adalah anak kecil yang berarti durasi pijatnya lebih pendek dari pada orang dewasa. Kebosanan menunggu mulai tergambar di pikiran. Tapi, karena tubuh sudah terasa remuk sejak beberapa hari belakangan, saya rasa menunggu adalah jalan yang terbaik.

Setelah melewati sekian jam bersama kebosanan, akhirnya giliran saya untuk dipijat. Sentuhan tangan Ke Sumar terasa pas dan terampil di punggung saya. Meski kehidupannya mengolah ladang, tangannya tak begitu terasa kapalan ketika memijat. Itu pula yang mungkin disukai oleh orang-orang selainku. Pijatannya tidak begitu sakit, bahkan cenderung membuat rileks, sehingga tidak jarang pasiennya larut dalam kantuk.

Satu yang membedakan Ke Sumar dengan tukang pijat lainnya di kampung kami, yaitu nasihat-nasihatnya tentang kehidupan. Waktu saya dipijat ia bertanya, “Pekerjaanmu apa, Cong?”

“Ngajar, Ke,” kataku.

“Enak, ya? Tiap bulan bisa dapat gaji.”

“Iya, Ke, tapi lebih sering tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang mahal sekarang ini.”

“Ya, intinya tiap bulan ada yang bisa diharapkan kan?”

“Ya, betul, Ke.”

“Kalau menurut orang tua-tua dulu, untuk mendekatkan diri kepada Allah, pekerjaanmu kurang menantang, Cong.”

“Kenapa bisa begitu, Ke?”

“Ya, kamu tidak perlu mikir gaji. Sudah pasti ada di akhir bulan. Kamu tinggal bekerja saja dengan baik. Coba kalau kamu jadi sopir angkot atau tukang becak, untuk yang besok saja masih tidak jelas apakah dapat uang atau tidak.”

Dua orang pasien datang. Ke Sumar menghentikan pijatannya, mempersilakan duduk, lalu masuk ke dapur. Beberapa menit ia sudah keluar dengan dua kopi di atas talam untuk tamu yang barusan datang. Saat menyajikan, ia berbasa-basi sebentar, lalu melanjutkan pijatannya di perutku.

“Kalau gaji tidak jelas, orang cenderung gelisah. Orang yang gelisah biasanya larinya ke Allah. Bangun malam meminta rezeki kepada Allah untuk besoknya. Terus seperti itu setiap hari.”

Anak

Sejak awal menikah, saya sudah berniat menjauhkan anak-anak dari teknologi, khususnya ponsel, jika kelak dikaruniai seorang anak. Niat itu berawal dari keterpukauan saya terhadap perlakuan bos-bos teknologi macam Google, Yahoo, ataupun Apple kepada anak-anak mereka. Konon, anak-anak para bos tersebut dimasukkan ke sekolah yang sengaja dijauhkan dari teknologi. Nama sekolahnya adalah Waldorf School of the Peninsula.

Fakta ini membuat saya berpikir. Timbul sebuah pertanyaan, mengapa mereka melakukan itu? Jika jawabannya adalah mereka tidak mampu membeli alat-alat teknologi, tentu itu ngawur sekali. Mereka bisa membuat atau membeli teknologi bahkan yang tercanggih sekalipun. Lalu karena apa?

Saya lalu membaca beberapa tulisan tentang pengaruh negatif teknologi terhadap anak-anak. Ternyata banyak sekali, terutama terhadap psikis mereka. Untuk anak-anak yang masih belum bisa bicara, membiarkan mereka berlama-lama menonton layar ponsel akan membuat mereka lambat berbicara. Secara psikologi saya tidak mengerti bagaimana proses itu terjadi, tapi saya punya contoh faktual yang membuat saya sedikit yakin bahwa itu memang betul. Ada salah satu keponakan saya yang dulu ketika masih kecil memang sering disuguhi ponsel. Dia suka menonton video kartun atau lagu anak-anak. Ketika akan tidur, orang tuanya menyodorkan ponsel yang sudah diputarkan video. Si anak menonton dengan khusyuk, hingga matanya terlelap.

Kejadian itu berulang hingga menjadi kebiasaan. Ketika si anak mulai rewel, orang tuanya akan memberinya ponsel.

Beberapa tahun berselang, entah ada hubungannya atau tidak, si anak tak kunjung bisa berbicara, padahal anak-anak sepantarannya sudah lancar. Sejumlah orang menyarakan orang tuanya untuk melakukan ritual-ritual tertentu. Ritual-ritual itu diikutinya, namun belum jua berhasil. Baru kira-kira umur lima atau enam tahun dia mulai bisa mengucapkan sepatah dua patah kata. Saat ini dia memang bisa berbicara, tapi tetap tidak begitu lancar.

Fakta ini mungkin perlu penelitian mendalam dan belum bisa disimpulkan secara pasti akibat kecanduan ponsel. Tapi, sebagai sebuah kawaspadaan bagi saya sebagai orang tua, penting untuk memperhatikannya.

Selain hal di atas, masih banyak pengaruh ponsel terhadap anak-anak. Misalnya, radiasi layar ke mata anak. Mata mereka tentu berbeda dengan mata orang dewasa. Ketika mata mereka terus-menerus dipapar sinar ponsel, tentu kualitasnya akan kian menurun.

Dari sisi sosial, anak-anak yang kecanduan ponsel akan sulit bersosialisasi. Mereka lebih asyik dengan dunianya sendiri. Sebetulnya hal ini bukan cuma problem anak-anak, orang tua pun yang kecanduan ponsel akan susah diajak bicara.

Sebenarnya masih banyak pengaruh-pengaruh lainnya, tapi tak akan saya jelaskan di sini. Anda bisa mencarinya sendiri. Tapi, tentu tidak keseluruhan ponsel itu berisi hal-hal negatif. Sisi postifinya bagi anak-anak tetap ada, meskipun butuh peran besar dari orang tua.

Kembali ke soal niat saya tentang menjauhkan anak dari ponsel. Apakah niat itu berhasil setelah saya benar-benar punya anak? Ya, jika dilihat dari sisi saya sendiri. Saya jarang sekali menyodorkan ponsel ke hadapan anak, kecuali karena sangat terpaksa. Dan saya tidak pernah membiarkannya jika dia sedang memegang ponsel.

Masalahnya, saya tidak mungkin hidup hanya berdua dengan anak. Masih ada istri dan famili-famili lain yang hidup dengan kami. Mereka tentu juga berperan besar dalam mengisi hari-hari anak saya. Saya tidak mungkin mengurung anak sendirian hanya karena merasa khawatir dia jadi benalu di masa depan. Saya tetap akan memberinya kebebasan untuk bermain dengan famili dan tetangga, sebab itu bagian dari proses pendewasaannya.

Namun, itu bukan tanpa risiko. Saya bolehlah tidak memberikan ponsel kepada anak, tapi bagaimana dengan famili-famili yang lain? Nyatanya, mereka malah dengan murah hati menyodorkannya kepada anak saya. Mungkin bagi mereka itu bentuk kebanggaan atau apalah namanya. Dan saya tidak bisa mencegah mereka melakukan itu. Akhirnya, anak saya kadang menangis karena tidak diperbolehkan memegang ponsel dan dalam hati saya bergumam, “susah juga merawat anak”.

Perfeksionis

Dalam sebuah acara bedah buku, seorang pembicara menyebut dirinya sulit menulis karena dihantui oleh karya-karya orang lain yang bagus-bagus. Mau menulis ini kok sudah keduluan si anu, mau menulis model begini sudah ada si ini, mau gaya seperti ini sudah ada si itu, dan seterusnya dan seterusnya. Artinya, ia tidak bisa menulis dengan leluasa karena dibayang-bayangi oleh hantu tulisan-tulisan orang lain. Pada akhirnya, ia tidak menghasilkan tulisan apa pun, kecuali satu dua karya yang ditulis karena diminta paksa oleh beberapa sejawatnya.

Dia bukan tidak cerdas. Pengetahuannya cukup mampu untuk menundukkan mahasiswa lulusan S2 atau bahkan S3 zaman sekarang. Dalam beberapa acara seminar dan diskusi, dia sering diminta menjadi pembicara. Saya kira dengan kemampuan seperti itu tidak mungkin kepalanya sering tersumbat saat menulis. Dia pasti bisa menulis dengan lancar andaikata tidak punya penyakit lain, berupa perfeksionis.

Lho, perfeksionis bukannya justru bagus untuk menghasilkan karya yang keren? Jika seperti itu pandangan kalian, maka saya tambahi istilahnya: terlalu perfeksionis. Ya, satu sisi perfeksionis itu penting ditanam dalam hati agar kita tidak sembrono dalam menulis. Tetapi, terlalu perfeksionis bisa-bisa kita tidak pernah menghasilkan apa-apa. Belum menyusun kata sudah dihantui ini dan itu. Jelas, hal sedemikian tidak baik terutama untuk penulis pemula.

Bagi penulis pemula seperti saya, menulis buruk adalah makanan empuk. Namanya pemula, siapa pun tidak akan mematok target yang tinggi. Cukup lancar mengalirkan kata sudah lumayan. Sebab, merangkai kata bukanlah hal yang mudah bagi pemula. Saya harus meletakkan kaidah-kaidah kepenulisan terlebih dahulu untuk bisa merangkai kata dengan enjoi. Kalau tertawan oleh teori-teori tersebut, tangan rasanya jadi kaku. Kalimat-kalimat yang saya rangkai seringkali harus dihapus kembali karena merasa kurang pas. Jika terus-terusan menghapus hasil ketikan, kapan saya bisa menghasilkan tulisan?

Tulisan buruk bagi pemula bukanlah sesuatu yang besar. Dia punya waktu untuk terus memperbaiki di tulisan-tulisan selanjutnya. Yang jadi masalah terbesar bagi penulis pemula adalah keuletannya dalam menulis. Dalam beberapa kesempatan mungkin dia menulis dengan remuk, tapi dalam kesempatan yang lain, entah untuk yang keseribu kalinya, dia tidak akan mengulang-ulang keburukan itu. Jika dalam langkah keseribu itu dia tetap menulis buruk, lebih baik dia pensiun saja dan menjadi pemain sirkus atau menjual tempe goreng. Dua profesi itu tidak butuh kemampuan tulis-menulis bagus.

Rumah

Ini bukan rumahku. Aku punya rumah yang lain, tempat yang kupersiapkan untuk menampung kenangan dari kehidupanku. Rumah yang bisa membuatku betah dengan segala pahit manisnya.

Rumah. Ia bukan sekadar onggokan batu dan tanah dan kayu. Maknanya bisa jauh melampui nama benda-benda mati itu. Padanya disampirkan banyak mitos dan kepercayaan. Ada ritus-ritus tertentu agar rumah itu mendatangkan kebahagiaan atau menolak kesengsaraan.

Rumah. Ia bukan sekadar tempat berteduh. Darinya muncul kelapangan rezeki atau sebaliknya. Ketenangan hati atau kegaduhannya. Semua berkelindan dengan bagaimana rumah itu dibuat. Ada primbon yang mengaturnya, bagi orang-orang kuno. Ada fengshui bagi orang-orang Tionghoa.

Rumah. Ia bukan sekadar alamat pulang. Lebih dari itu, darinya akan muncul sebuah kehidupan. Dari satu generasi ke generasi lainnya. Membentuk mata rantai yang panjang.

Penyair

Sore itu kami datang ke sebuah rumah di batas kampung dengan sebundel puisi di tangan masing-masing. Kami baru saja dari rental print dengan perasaan bangga, kami punya karya dan kami adalah penyair.

Orang yang kami tuju sedang menyedot rokok lintingan di teras rumahnya. Asapnya yang pekat merimbuni kumis dan jenggotnya yang tebal. Di kampung kami, dia dikenal sebagai penyair hebat, meskipun tak ada karyanya yang pernah dimuat media. “Apakah karya seseorang harus dimuat media dulu baru bisa disebut penyair? Tolol”. Itu pertanyaan yang sekaligus semburan si penyair kampung kami kepadaku suatu ketika, saat kami mengobrol di sore yang lain.

Penyair kampung kami ini sudah berumur 50-an tahun. Ia menjomblo dan merasa itu adalah bagian dari sebuah puisi. “Aku mencintai seorang perempuan dan ia kini sudah bersuami. Aku ingin menjalani hidup ini dengan tetap menyimpan cinta kepadanya, meskipun ia tak bersamaku. Kupikir itu adalah puisi terbaik yang harus kusimpan baik-baik,” katanya suatu ketika. Mendengarnya aku tahu bahwa ia ternyata orang yang melodramatis, jauh dari kesan saat ia menghakimi puisi-puisi kami.

Sore itu kami dipersilahkan duduk. Ia masuk ke dalam rumahnya sebentar, lalu keluar dengan membawa segelas kopi berukuran besar.

“Joinan saja. Penyair tak boleh egois,” katanya, mengisyaratkan kami untuk minum kopi dalam satu gelas.

“Banyak sekali puisimu,” kata si penyair kampung kami kepada teman saya yang menyodorkan sebundel puisi.

“Iya, Bang. Sedang banyak inspirasi. Hehe.”

Temanku itu memang sedang kasmaran. Wajar jika ia bisa menimbun banyak puisi dalam waktu singkat. Itu kelaziman yang tak bisa ditolak bangsa manusia.

Penyair kampung kami membuka-buka bundelan kertas itu, membacanya sekilas-sekilas seperti orang dinas memeriksa proposal, lalu menatap ke arahku.

“Punya kau mana?”

“Ini, Bang.” Kusodorkan karyaku dengan perasaan harap-harap cemas, sebuah kondisi yang terus berulang saat kuserahkan karyaku kepada lelaki itu.

Beberapa saat setelah membaca karyaku, penyair kampung kami menatap tajam ke arah kami berdua. Temanku tampak takzim, seperti ajudan bupati yang baru saja mendapat rapor merah.

“Kalian ini bukan menulis, tapi berak.” Itu ucapan singkat yang memorak-porandakan pendirian kami. Aku pernah mendengar kalimat itu diucapkan oleh seorang sastrawan terkenal kepada fans-nya yang calon penulis, tapi aku lupa namanya.

Kami pulang dengan gerundelan masing-masing. Temanku tampak seperti patah hati, tapi ia mencoba tegar.
Meskipun selalu dibantai habis, kami tetap merasa perlu datang lagi kepada penyair kampung kami. Di sore beberapa hari berikutnya, temanku mengajak kembali untuk berkunjung kepadanya.

“Aku ingin menyerahkan ini,” katanya sambil tersenyum.

Ia memperlihatkan lima puisinya yang terbit di sebuah koran. Kurasa ia datang bukan dengan niat mengoreksikan karyanya, melainkan ingin mempecundangi penyair kampung kami. Ia ingin katakan bahwa ungkapan-ungkapan sarkastisnya selama ini salah besar.

Saat sampai di rumah si penyair, temanku menyerahkan lembaran koran tersebut. Lelaki itu membacanya dengan tekun, lalu manggut-manggut. Bola mata temanku berbinar bahagia menyaksikan gerakan kepala itu. Ia pasti merasa si penyair menyukainya. Si penyair tetap membaca sebelum akhirnya berkata, “Kau itu tetap berak. Bedanya, kalau kemarin kau cuma berak di hadapanku, kini kau berak di hadapan banyak orang.”

Sejak saat itu kami putuskan untuk tidak menjadi penyair. Aku memilih menjadi kuli bangunan dan temanku memilih mengangon kambing.