Anak

Sejak awal menikah, saya sudah berniat menjauhkan anak-anak dari teknologi, khususnya ponsel, jika kelak dikaruniai seorang anak. Niat itu berawal dari keterpukauan saya terhadap perlakuan bos-bos teknologi macam Google, Yahoo, ataupun Apple kepada anak-anak mereka. Konon, anak-anak para bos tersebut dimasukkan ke sekolah yang sengaja dijauhkan dari teknologi. Nama sekolahnya adalah Waldorf School of Peninsula.

Fakta ini membuat saya berpikir. Timbul sebuah pertanyaan, mengapa mereka melakukan itu? Jika jawabannya adalah mereka tidak mampu membeli alat-alat teknologi, tentu itu ngawur sekali. Mereka bisa membuat atau membeli teknologi bahkan yang tercanggih sekalipun. Lalu karena apa?

Saya lalu membaca beberapa tulisan tentang pengaruh negatif teknologi terhadap anak-anak. Ternyata banyak sekali, terutama terhadap psikis mereka. Untuk anak-anak yang masih belum bisa bicara, membiarkan mereka berlama-lama menonton layar ponsel akan membuat mereka lambat berbicara. Secara psikologi saya tidak mengerti bagaimana proses itu terjadi, tapi saya punya contoh faktual yang membuat saya sedikit yakin bahwa itu memang betul. Ada salah satu keponakan saya yang dulu ketika masih kecil memang sering disuguhi ponsel. Dia suka menonton video kartun atau lagu anak-anak. Ketika akan tidur, orang tuanya menyodorkan ponsel yang sudah diputarkan video. Si anak menonton dengan khusyuk, hingga matanya terlelap.

Kejadian itu berulang hingga menjadi kebiasaan. Ketika si anak mulai rewel, orang tuanya akan memberinya ponsel.

Beberapa tahun berselang, entah ada hubungannya atau tidak, si anak tak kunjung bisa berbicara, padahal anak-anak sepantarannya sudah lancar. Sejumlah orang menyarakan orang tuanya untuk melakukan ritual-ritual tertentu. Ritual-ritual itu diikutinya, namun belum jua berhasil. Baru kira-kira umur lima atau enam tahun dia mulai bisa mengucapkan sepatah dua patah kata. Saat ini dia memang bisa berbicara, tapi tetap tidak begitu lancar.

Fakta ini mungkin perlu penelitian mendalam dan belum bisa disimpulkan secara pasti akibat kecanduan ponsel. Tapi, sebagai sebuah kawaspadaan bagi saya sebagai orang tua, penting untuk memperhatikannya.

Selain hal di atas, masih banyak pengaruh ponsel terhadap anak-anak. Misalnya, radiasi layar ke mata anak. Mata mereka tentu berbeda dengan mata orang dewasa. Ketika mata mereka terus-menerus dipapar sinar ponsel, tentu kualitasnya akan kian menurun.

Dari sisi sosial, anak-anak yang kecanduan ponsel akan sulit bersosialisasi. Mereka lebih asyik dengan dunianya sendiri. Sebetulnya hal ini bukan cuma problem anak-anak, orang tua pun yang kecanduan ponsel akan susah diajak bicara.

Sebenarnya masih banyak pengaruh-pengaruh lainnya, tapi tak akan saya jelaskan di sini. Anda bisa mencarinya sendiri. Tapi, tentu tidak keseluruhan ponsel itu berisi hal-hal negatif. Sisi postifinya bagi anak-anak tetap ada, meskipun butuh peran besar dari orang tua.

Kembali ke soal niat saya tentang menjauhkan anak dari ponsel. Apakah niat itu berhasil setelah saya benar-benar punya anak? Ya, jika dilihat dari sisi saya sendiri. Saya jarang sekali menyodorkan ponsel ke hadapan anak, kecuali karena sangat terpaksa. Dan saya tidak pernah membiarkannya jika dia sedang memegang ponsel.

Masalahnya, saya tidak mungkin hidup hanya berdua dengan anak. Masih ada istri dan famili-famili lain yang hidup dengan kami. Mereka tentu juga berperan besar dalam mengisi hari-hari anak saya. Saya tidak mungkin mengurung anak sendirian hanya karena merasa khawatir dia jadi benalu di masa depan. Saya tetap akan memberinya kebebasan untuk bermain dengan famili dan tetangga, sebab itu bagian dari proses pendewasaannya.

Namun, itu bukan tanpa risiko. Saya bolehlah tidak memberikan ponsel kepada anak, tapi bagaimana dengan famili-famili yang lain? Nyatanya, mereka malah dengan murah hati menyodorkannya kepada anak saya. Mungkin bagi mereka itu bentuk kebanggaan atau apalah namanya. Dan saya tidak bisa mencegah mereka melakukan itu. Akhirnya, anak saya kadang menangis karena tidak diperbolehkan memegang ponsel dan dalam hati saya bergumam, “susah juga merawat anak”.