Perfeksionis

Dalam sebuah acara bedah buku, seorang pembicara menyebut dirinya sulit menulis karena dihantui oleh karya-karya orang lain yang bagus-bagus. Mau menulis ini kok sudah keduluan si anu, mau menulis model begini sudah ada si ini, mau gaya seperti ini sudah ada si itu, dan seterusnya dan seterusnya. Artinya, ia tidak bisa menulis dengan leluasa karena dibayang-bayangi oleh hantu tulisan-tulisan orang lain. Pada akhirnya, ia tidak menghasilkan tulisan apa pun, kecuali satu dua karya yang ditulis karena diminta paksa oleh beberapa sejawatnya.

Dia bukan tidak cerdas. Pengetahuannya cukup mampu untuk menundukkan mahasiswa lulusan S2 atau bahkan S3 zaman sekarang. Dalam beberapa acara seminar dan diskusi, dia sering diminta menjadi pembicara. Saya kira dengan kemampuan seperti itu tidak mungkin kepalanya sering tersumbat saat menulis. Dia pasti bisa menulis dengan lancar andaikata tidak punya penyakit lain, berupa perfeksionis.

Lho, perfeksionis bukannya justru bagus untuk menghasilkan karya yang keren? Jika seperti itu pandangan kalian, maka saya tambahi istilahnya: terlalu perfeksionis. Ya, satu sisi perfeksionis itu penting ditanam dalam hati agar kita tidak sembrono dalam menulis. Tetapi, terlalu perfeksionis bisa-bisa kita tidak pernah menghasilkan apa-apa. Belum menyusun kata sudah dihantui ini dan itu. Jelas, hal sedemikian tidak baik terutama untuk penulis pemula.

Bagi penulis pemula seperti saya, menulis buruk adalah makanan empuk. Namanya pemula, siapa pun tidak akan mematok target yang tinggi. Cukup lancar mengalirkan kata sudah lumayan. Sebab, merangkai kata bukanlah hal yang mudah bagi pemula. Saya harus meletakkan kaidah-kaidah kepenulisan terlebih dahulu untuk bisa merangkai kata dengan enjoi. Kalau tertawan oleh teori-teori tersebut, tangan rasanya jadi kaku. Kalimat-kalimat yang saya rangkai seringkali harus dihapus kembali karena merasa kurang pas. Jika terus-terusan menghapus hasil ketikan, kapan saya bisa menghasilkan tulisan?

Tulisan buruk bagi pemula bukanlah sesuatu yang besar. Dia punya waktu untuk terus memperbaiki di tulisan-tulisan selanjutnya. Yang jadi masalah terbesar bagi penulis pemula adalah keuletannya dalam menulis. Dalam beberapa kesempatan mungkin dia menulis dengan remuk, tapi dalam kesempatan yang lain, entah untuk yang keseribu kalinya, dia tidak akan mengulang-ulang keburukan itu. Jika dalam langkah keseribu itu dia tetap menulis buruk, lebih baik dia pensiun saja dan menjadi pemain sirkus atau menjual tempe goreng. Dua profesi itu tidak butuh kemampuan tulis-menulis bagus.